skripsi-kajian-pembuatan-minuman-dari-daun-jeruju
KAJIAN
PEMBUATAN MINUMAN DARI DAUN JERUJU (Acanthus
Ilicifolius Linn)
Coki
Andria
Jurusan Teknologi Hasil
Pertanian-Fakultas Teknologi Pertanian-Universitas Jambi
ABSTRAK
Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui sifat kimia, sifat fisik, dan organoleptik pada
pembuatan minuman daun jeruju (Acanthus
ilicifolius L.) dengan konsentrasi jumlah daun jeruju yang berbeda dan
untuk mengetahui pengaruh konsentrasi daun jeruju yang tepat terhadap sifat
kimia, sifat fisik dan organoleptik pada daun jeruju (Acanthus ilicifolius L.).Hasil penelitian menunjukkan bahwa
konsentrasi daun jeruju tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sifat
organoleptik warna dan derajat warna akan tetapi pengaruh nyata terhadap pH,
rasa, aroma dan penerimaan keseluruhan minuman daun jeruju (Acanthus ilicifolius L). Analisis data
menggunakan analisis sidik ragam pada taraf 1% dan 5% dan dilanjutkan dengan
uji Duncan’s Range pada taraf 5%. Sedangkan uji tanin dianaisa secara
deskriptif. Konsentrasi daun jeruju
yang memberikan hasil yang terbaik yaitu sebanyak 4,16% (b/v) atau 50 gram daun
jeruju dan 10% gula dalam air 600ml yang memiliki nilai pH 7,67, uji kualitatif
tanin positif (biru), kandungan total tanin 1,68 mg/ml, derajat warna kuning
kehijauan (yellow green), aroma 2,50 (agak beraroma jeruju), rasa 2,30 (agak
sepat, warna 3,20 (kuning kehijauan0, dan penerimaan keseluruhan 3,85 (suka).
Kata kunci :
Tanaman jeruju, nilai pH, uji tanin, derajat warna dan uji organoleptik.
PENDAHULUAN
Tanaman jeruju
merupakan salah satu jenis tanaman mangrove yang banyak terdapat di pinggir
sungai, jalan raya, pekarangan rumah, dan pantai di Kabupaten Tanjung Jabung
Barat (Kuala Tungkal) Provinsi Jambi. Dari sekitar 89 jenis spesies mangrove yang tumbuh, ternyata terdapat
salah satu jenis mangrove yang dapat
dibuat menjadi teh, spesies mangrove,
spesies mangrove tersebut adalah Acanthus Illicifolius L. Spesies ini
termasuk kedalam golongan tanaman perdu dan dapat digunakan sebagai indikator
kerusakan hutan mangrove, sehingga tanaman ini hanya terdapat dikawasan yang
hutan mangrove nya masih terjaga
dengan baik (Lubis, 2010).
Tanaman jeruju
ini belum digunakan secara optimal oleh masyarakat setempat. Berdasarkan
penuturan masyarakat tanjung jabung barat tanaman ini biasanya dibuang begitu
saja dan dianggap sebagai tanaman liar yang tidak ada nilai fungsinya dan ada
sebagian masyarakat menggunakan jeruju sebagai obat tradisional. Maka itu perlu
diangkat potensi dari tanaman jeruju ini menjadi menuman sehingga dapat
meningkatkan nilai ekonomis. Sebelumnya, tanaman jeruju sudah banyak dikonsumsi
masyarakat disepanjang pantai di Kabupaten Langkat Sumatera Utara yakni sebagai
minuman teh menyerupai teh, sehingga didapat manfaat dan kandungan zat gizinya
apabila dibuat minuman fungsional daun jeruju (Lubis, 2010).
Keuntungan lain
dari jeruju yaitu memiliki perkembangan yang cukup cepat dan relatif sangat
potensial karena tumbuh disepanjang pantai. Perawatan tanaman jeruju yang
relatif mudah menjadi nilai tambah bagi tanaman ini. Tanaman jeruju
memilikikandungan kimia yang sangat baik digunakan dalam penyembuhan luka,
penyakit demam dan alergi pada kulit, baik dibagian akar, batang meupun
daunnya. Pada penelitian Anagari (2011) penggunaan gula pada minuman fungsional
sari akar alang-alang sebanyak 10% sampai 15%.
Dari segi
kandungan kimia jeruju mengandung saponin, flavonoid, polifenol, dan tanin yang
mempunyai khasiat sebagai antioksidan. Berdasarkan kandungan kimia yang
terdapat pada jeruju maka sangat prosfektif untuk memanfaatkan tanaman jeruju
sebagai antioksidan. Berdasarkan kandungan kimia yang terdapat pada jeruju
sangat prosfektif untuk meamnafaatkan tanaman jeruju sebagai minuman yang
mempunyai khasiat bagi tubuh seperti sebagai antioksidan.
Daun jeruju
mengandung senyawa verbakosida dan asam fenolat. Dari isolasi ekstrak etanol
daun teh jeruju dihasilkan senyawa verbakosida yaitu suatu glikosida ester
turunan asam kafeat yang diperoleh secara kromatografis lapis tipis,
spektrofotometri, ultraviolet, dan inframerah sedangkan senyawa asam fenolat
yaitu asam vanilat, asam saringat, asam ferulat,asam p-hidroxibenzoat dan asam
p-kumarat dapat diidentifikasi dari ekstrak etanol secara kromatografis lapis
tipis selulosa sua dimensi (Soetarno, 2007).
Menurut Komalawati
(1991), telah dilakukan pemeriksaan fitokimia ekstrak n-hexana dan ekstrak
elanol daun jeruju (Acanthus ilicifolius L) dari ekstrak n-hexana telah
diisolasi dan diidentifikasi stigmastcrol secara KLT. Dari ekstrak etanol telah
diisolasi dan dikarakteristik verbakosid secara KLT selulosa dan spektrofotometri UV. Sedangkan
asam-asam fenolat yaitu asam fanilal. Asam siringat, asam ferurat. Asam
p-Hidroksi benzoat dan asam p-Kumarat diperiksa secara KLT selulosa.
METODE
PENELITIAN
1.Tempat dan Waktu Penelitian
Peneltian
dilaksanakan di Laboratorium Analisa Pengolahan Pangan Hasil Pertanian,
Fakultas Teknologi Pertanian dan Pusat Pengembangan Agribisnis dan Laboratorium
Terpadu (PPA-LT), Universitas Jambi pada bulan Juli sampai dengan Desember
2013.
2.Alat dan Bahan
Alat yang
digunakan untuk penelitian minuman daun jeruju adalah panci, pisau, blender,
spatula, wajan, kompor, saringan teh, timbangan analitik, timbangan biasa,
tabung reaksi, labu erlenmeyer, gelas piala, pipet tetes, pH meter, colour reader,
batang pengaduk, pipet mohr, vortex mixer, kertas saring, magnetik stirrer,
botol air mineral, kulkas dan spektrofotometer UV-Vis. Bahan yang digunakan
untuk penelitian ini adalah daun jeruju, air dan gula pasir, aquades, larutan
buffer, dietil eter, FeCl3 (Ferriklorida)
0,1%, reagen folin ciocalten dan NaCO3.
3.Rancangan dan Pelaksaan Penelitian
Penelitian
dilakukan dengan menggunakan rancangan acak
lengakap (RAL) dengan perlakuan berat dan jumlah daun jeruju dalam
jumlah air 600 ml air yang digunakan pada masing-masing perlakuan yakni :
K1 = 25 gram, K2
= 50 gram, K3 = 75 gram, K4 = 100 gram , K5 = 125 gram,dan K6 = 150 gram
Setiap perlakuan
diulang sebanyak 4 kali sehingga diperoleh satuan 24 satuan percobaan.
Daun jeruju yang
dikehendaki harus sesuai dengan kriteria jeruju yang baik dan bagus yaitu
bersih dari kotoran dan tidak terdapat kerusakan pada daun jeruju dengan umur
daun jeruju yang dicampur daun muda dan daun tua yang terdapat di daerah Kuala
Tungkal.
Daun jeruju
dibersihkan dan dicuci dengan air bersih yang mengalir terlebih dahulu
selanjutnya dirajang atau dipotong kecil dengan ukuran sekitar 3 s/d 5 cm
menggunakan gunting dan pisau, kemudian menimbang daun jeruju sebanyak 25 gram,
50 gram, 75 gram, 100 gram, 125 gram, dan 150 gram kemudian
masing-masingdirebus dalam 600 ml air dengan waktu perebusan selama 15 menit
pada saat air mulai mendidih, kemudian dapat dilakukan penyaringan dengan
saringan teh dan ampas daun jeruju dibuang. Kemudian menambahkan gula sebanyak
60 gram, diaduk sampai homogen.
4.Uji komposisi kimia pada daun jeruju
1.
Nilai pH
Pengukuran ph
dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. Sebelum Ph meter digunakan maka
dilakukan standarisasi. Menyalakan dan membiarkan pH meter selaam 15 menit
sampai 30 menit kemudian set pengukuran pH meter sesuai dengan larutan buffer,
selanjutnya elektroda dibilas dengan larutan buffer atau aquadest, kemudian
dikeringkan dengan kertas tissue. Eletroda dicelupkan kedalam larutan buffer pH
4, set pengukuran pH, elektroda dibiarkan sampai beberapa saat sehingga
setimbang dengan larutan buffer dan diperoleh pembacaan yang stabil. Hal yang
sama dilakukan pada larutan buffer pH 7.
Nilai pH yang
tertera pada layar pH meter adalah pH minuman daun jeruju.
2.
Uji tanin
Uji kualitatif
tanin (Indiarto,2011)
Penentuan kadar
tanin secara kualitatif sitentukan dengan metoda Indiarto (2011) yang sedikit
dimodifikasi. Ke dalam gelas kimia dimasukkan 0,5 gram serbuk sampel, kemudian
ditambahkan 20 ml aquades Llu dididihkan dan disaring. Setelah itu o,5 ml fitrat
ditambahkan ferriklorida (FeCl3) 0,1% dan diamati terjadinya
perubahan warna.
3.
Penentuan
kandungan total tanin metode (Chanitheesuk et
all, 2004 diacu dalam Liberty et al.,
2012)
Kandungan total
tanin ditentukan dengan metode Chanwitheesuk et al (2004) yang sedikit
dimodifikasi. Sebanyak 0,5 gram daun jeruju yang sudahdihaluskan diekstraksi
dengan 10 m dietil ester selama 20 jam, kemudian disaring dan residu yang
diperoleh dididihkan dengan 100 ml akuades selama 2 jam, kemudian didinginkan
dan disaring. Ekstrak yang diperoleh ditambahkan dengan akuades hingga volume
ekstrak 100 ml. Sebanyak 1 ml ekstrak ditambahkan dengan akuades hingga volume
ektrak ditambahkan dengan 2 ml Na2CO3 dan divortex lagi.
Adsorbansi dibaca pada λ 760 nm setelah diikubasi selama 30 menit pada suhu
kamar. Hasil yang diperoleh diplotkan
terhadap kurva standar asam tanat yang dipersiapkan dengan cara yang sama.
Kandungan total tanin dinyatakan dalam mg asam tanat/mg ekstrak.
4.
Derajat warna,
metofe Hunter (Hutching, 1999 diacu dalam heroid, 2007)
Analisa
dilakukan dnegan menggunakan alat Colour Reader. Pada prinsipnya Colour Reader
bekerja berdasarkan pengukuran perbedaan warna yang dihasilkan oleh permukaan
sampel. Pengukuran dilakukan dengan meletakkan sampwel didalam wadah sampel berukuran
seragam (misalnya cawan petri). Selanjutnya dilakukan pengukuran nilai L, a,
dan nilai b terhadap sampel. Nilai L menyatakan parameter kecerahan yang
mempunysi nilai dari 0 (hitam) sampai 100 (putih). Nilai a menyatakan cahaya
pantul yang menghasilkan warna kromatik campuran merah-hijau dengan nilai +a
hijau (positif) dari 0-100 warna merah dan nilai –a (negatif) dari 0-(-80)
untuk warna hijau. Nilai b menyatakan warna kromatik campuran biru-kuning
dengan niai +b (positif) dari 0-70 untuk kuning dan niai –b (negstif) dari
0-(-70) untuk warna biru.
5.
Organoleptik
Uji organoleptik
dilakukan dengan menggunakan uji mutu hedonik dan uji hedonik panelis yang
digunakan adalah panelis agak terlatih yang berjumlah 20 orang panelis agak
terlatih, yang terdiri dari mahasiswa Jurusan Teknologi Hasil Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Parameter yang diuji adalah uji mutu
hedonik dan uji hedonik (penerimaan keseluruhan).
Data yang
diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan sidik ragam pada taraf 1% dan
5% yang dilanjutkan dengan uji Duncan’s Range pada taraf 5%. Sedangkan uji
tanin dianalisa secara deskriptif.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1.
Nilai pH
Bedasarkan
analsis sidik ragam pada lampiran diketahui nilai pH dengan perlakuan berat
daun jeruju menunjukan sangat berbeda nyata terhadap pH minuman daun jeruju
dapat dilihat pada tabel 1 berikut :
Perlakuan (gram)
|
Nilai pH
|
25
|
7,67 a
|
50
|
7,01 b
|
75
|
6,76 b
|
100
|
6,45 c
|
125
|
6,32 c
|
150
|
6,22 c
|
Keteramgan :
notasi huruf yang berbeda menunjukkan nyata pada taraf 5% menurut uji DNMRT.
Tabel 2.
Memperlihstkan bahwa nilai pH berkisar antara 6,22-7,67, nilai pH minuman daun
jeruju termasuk kedalam kategori larutan bersifat netral dan asam lemah. Nilai
pH terendah diperoleh pada perlakuan 150 gram. Hal ini menunjukkan terjadinya
penurunan nilai pH dari perlakuan K1 sampai K6 yaitu dikarenakan banyaknya
penambahan duan hal ini diduga karena sifat keasaman lemah pada daun jeruju
yang digunakan maka semakin turun pula nilai pH-nya. Jumlah daun jeruju yang
banyak dapat mengubah kondisi netral menjadi asam lemah pada minuman daun
jeruju.
2.
Uji Tanin
Uji
Kualitatif Tanin
Hasil uji
kualitatif tanin minuman daun jeruju bersifat positif (+). Minuman daun jeruju
positif mengandung tanin yang ditandai dengan perubahab warna kuning kemerahan
menjadi biru. Hasil uji tanin dari sampel minuman daun jeruju dengan pereaksi FeCl3
0,1% menunjukkan uji positif yaitu warna larutan menjadi kuning kemerahan
menjadi biru. Hsl ini terjadi karena adanya reaksi reduksi. Tanin merupakan
golongan senyawa polifenol, polifenol mampu mereduksi besi (III) menjadi besi
(II) (Budini (1980) dalam Indiarto (2011).
Penentuan Kandungan Total Tanin
Berdasarkan uji
kandungan total tanin didapat kandungan total tanin dalam ekstrak 1 ml memiliki
yaitu 1,68 mg/ml dalam 500 mg berat daun jeruju yang sudah dikeringkan. Jika
dikonversikan kedalam 100 ml air terdapat kandungan tanin sebanyak 168 mg.
Berat daun jeruju kering sebanyak 21 gram sama dengan berat 75 gram daun jeruju
basah. Tanni secara umum didefinisikan sebagai senyawa polifenol yang memiliki
berat molekul cukup tinggi (lebih dari 1000) dan dapat membentuk kompleks
dengan protein. Tanin dapat memberikan citarasa yang khas terhadap teh atau
minuman yang menyerupai teh tersebut yaitu rasa yang sedikit sepat.
3.
Derajat Warna
Berdasarkan
hasil deskripsi pengujian warna secara objektif, keseluruhan produk munuman
daun jeruju menunjukkan tidak berbeda nyata masih memiliki kisaran warna yang
tergolong sebagai warna kuning kehijauan (yellowgreen).
Dari berbagai
perlakuan percobaan memperlihatkan secara keseluruhan deskripsi warna secara
objektif adalah kuning kehijauan (yellowgreen) yang dimana nilai –a (negatif)
menunjukkan warna hijau dan nilai +b menunjukkan warna kuning jadi jika
digabung deskripsi warna minuman daun jeruju yaitu kuning kehijauan meskipum
nilai 0Hue sedikit berbeda. Adanya peningkatan dan penurunan nilai L
tidak mempengaruhi dari derajat warna minuman jeruju. Secara pengamatan visual,
warna minuman yang disimpan pada suhu refrigator selama 1 hari menunjukkan warna
kuning cerah (Herold, 2010).
4.
Organoleptik
Uji organoleptik
pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kesukaan panelis
terhadap minuman daun jeruju yang dihasilkan. Kriteria yang digunakan dalam uji
orgsnoleptik ini meliputi uji mutu hedonik (aroma,rasa,warna) dan uji hedonik
(penerimaan keseluruhan).
Aroma
Nilai rata-rata
uji orgsnoleptik atau uji panelis terhadap aroma dapat dilihat pada tabel 2
berikut :
Perlakuan (gram)
|
Nilai rata-rata aroma
|
150
|
3,90 a
|
125
|
3,85 a
|
75
|
3,55 a
|
100
|
3,45 a
|
50
|
3,30 a
|
25
|
2,50 a
|
Keterangan :
5=sangat beraroma jeruju, 4=beraroma
jeruju, 3=agak beraroma jeruju, 2=tidak beraroma jeruju, 1=sangat tidak
beraroma jeruju.
Menurut uji mutu
organoleptik kisaran tersebut memperlihatkan aroma minuman daun jeruju yang
dihasilkan agak beraroma jeruju sampai beraroma jeruju. Hasil analisis ragam
menunjukkan bahwa sangat berbeda nyata terhadap aroma daun jeruju. Aroma
minuman daun jeruju umumnya berasal dari daun jeruju itu sendiri.
Rasa
Hasil analisis
ragam menunjukkan bahwa sanat berbeda nyata terhadap rasa daun jeruju.
Rata-rata nilai untuk kriteria rasa minuman daun jeruju berkisar antara
2,30-3,35. Menurut uji organoleptik rasa minuman daun jeruju yang dihasilkan
agak sepat sampai sepat. Rasa dipengaruhi oleh komponen ysng ditambahkan
khususnya daun jeruju itu sendiri dan rasa sepat disebabkan karena adanya
senyawa tanin. Turunnya intensitas rasa
manis semakin terdeteksinya rasa pahit atau sepat karena adanya kandungan
fenolik dan flavonoid (Drenowski dan Carnerous (2000)dalam Herold (2007)
Warna
Berdasarkan uji
organoleptik pada daun jeruju memperlihatkan warna minuman daun jeruju adalah
kuning kemerahan sampai agak kuning kemerahan. Rata-rata nilai kriteria warna
berkisar antara 2,95-4,00 Kecenderungan warna daun jeruju meningkat dikarenakan
jumlah kadar daun jeruju sangat banyak, sehingga rasa juga mempengaruhi
komponen yang ditambahkan khususnya daun jeruju itu sendiri. Penggunaan daun
jeruju yang segar tanpa pengeringan dan pelayuan akan membuat warna minuman
menjadi kuning kemerahan sampai agak kuning kemerahan. Daun jeruju segar yang
melalui proses pengeringan dan pelayuan akan membuat warna air seduhan coklat
pekat.
5.
Uji Hedonik
(penerimaan keseluruhan)
uji hedonik
merupakan uji kesukaan terhadap suatu sampel. Rata-rata nilai kesukaan daun jeruju
dapat dilihat pada tabel 3 berikut :
Perlakuan (gram)
|
Nilai rata-rata hedonik
|
25
|
3,85 a
|
50
|
3,40 a
|
75
|
3,35 a
|
100
|
3,30 a
|
125
|
3,05 a
|
150
|
2,95 a
|
Keterangan :
5=sangat suka, 4=suka, 3=agak suka, 2=tidak suka, 1=sangat tidak suka.
Nilai kesukaan
terhadap minuman daun jeruju berkisar antara 2,95-3,85 yang berarti panelis
memberi respon tidak suka pada perlakuan K6, agak suka dan suka terhadap
minuman jeruju. Peningkatan jumlah kesukaan minuman daun jeruju seiring dengan
penurunan jumlah daun jeruju yang digunakan.
Pada hasil
penelitian ini, konsentrasi daun jeruju tidak memberikan pengaruh nyata
terhadap sifat organoleptik warna dan derajat warna tetapi berpengaruh nyata
terhadap Ph, rasa, aroma, dan penerimaan keseluruhan dari minuman daun jeruju (Acanthus Ilicifolius L.). Konsentrasi
daun jeruju yang memberikan hasil dan disukai oleh panelis terbaik yaitu
sebanyak 4,16% (b/v) atau penggunaan yang tepat pada konsentrasi 50 gram daun jeruju
dan 10% gula dalam air 600ml.
KESIMPULAN
Berdasarkan
hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Konsentrasi
daun jeruju tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sifat organoleptik warna
dan derajat warna teatapi berpengaruh nyata terhadap pH, rasa, aroma dan
penerimaan keseluruhan minuman daun jeruju.
2. Konsentrasi daun jeruju yang memberikan
hasil yang terbaik yaitu sebanyak 4,16% (b/v) atau 50 grsm daun jeruju dan 10%
gula dalam air 600ml yang memiliki nilai pH 7,67 uji kualitatif tanin positif
(biru), kandungan total tanin 1,68 mg/ml, deskripsi derajat warna kuning
kehijauan (yellowgreen), aroma 2,50 (agak beraroma jeruju), rasa 2,30 (agak
sepat), warna 3,20 (kuning kehijauan) dan penerimaan keseluruhan 3,85 (suka).
Saran
Pembuatan
minuman daun jeruju disarankan untuk menggunakan konsentrasi dan jeruju yang
memberikan hasil dan disukai oleh panelis terbaik yaitu sebanyak 4,16% (b/v)
atau 50 gram daun jeruju dan 10% gula dalam air 600 ml.
Daftar
Pustaka
Anagari, H. Mustaniroh,
2011. Penentuan umur simpan minuman fungsional akar alang-alang. AGROINTEK 5
(2):118-125.
Herold.,2007. Formulasi
Minuman Fungsional kumis kucing .Fakultas Teknologi Pertanian. IPB : Bogor.
Indiarto, 2011. Uji
kualitatif dan kuantitatif golongan senyawa organik dari kulit kayu. FMIPA:
Univ. Lampung.
Komalawati, T. 1991.
Pemeriksaan kimia daun jeruju. FMIPA ITB : Bandung.
Lubis, M.I.2010.
Mempelajari pengaruh letak daun dan lama pelayuan terhadap kualitas daun
jeruju. Skripsi USU : Medan.
Soetarno, S., 2007.
Verbakosida dan asam venolat dari daun jeruju. http://digilib.biologi.lipi.go.id.
(9 Maret 2013).
Komentar
Posting Komentar